Sejarah Mbah Kuning Masih Buram

SEPUTAR MBULU - Selain Mbah Guru dan Mbah Demang, salah satu tokoh di Bulu yang tiap tahun diperingati (dikholi) adalah Mbah Kuning. Meski begitu, tak banyak warga yang tahu siapa sosok sebenarnya perempuan bernama asli Siti Halimah tersebut.

Berdasarkan penelusuran Seputar mBulu, riwayat hidup Mbah Kuning masih buram. Supatmi, salah seorang keturunan Mbah Kuning, mengaku tidak tahu banyak mengenai sejarah tokoh yang makamnya ada di kuburan Nyamplung itu. Ia hanya mengetahui kalau Mbah Kuning merupakan perempuan asal Madura.

"Mbah Kuning itu orang dari Madura. Sejatinya (sejarah) Mbah Kuning sendiri saya tidak tahu. Karena dulu waktu masih kecil makam (cungkup) itu sendiri sudah ada. Sedangkan makam yang ada di sebelah utara yang sekarang jadi bangunan rumah itu adalah makam saudara Mbah Kuning," katanya setahun silam.

Kendati sempat menjadi juru kunci makam, Supatmi bahkan tak menyadari kalau dirinya keturunan Mbah Kuning. “Saya sendiri tak tahu kalau saya ini keturunan Mbah Kuning," ujar salah satu penjual kayu bakar di pertigaan Pasar Layur tersebut.

Supatmi mengatakan asal mula ia bisa menjadi juru kunci adalah dari kakeknya. "Awalnya itu mbah saya yang menjadi juru kunci yakni Mbah Sumo Sabani," tutur wanita berumur 80 tahunan ini.

Setelah Mbah Sumo Sabani, juru kunci beralih ke Mbah Kayang, yakni adik ipar yang jugu sepupu dari Mbah Sumo Sabani. "Setelah Mbah Kayang, juru kunci itu beralih ke kakak saya Asmoro Kandi. Setelah kakak saya, barulah saya yang jadi juru kunci Mbah Kuning," jelasnya.

Karena desakan keluarga, juru kunci makam akhirnya ia serahkan ke keponakannya, Ibu Kus. “Keluarga yang meminta supaya saya melepaskan hal itu dan sebenarnya Ibu Kus sendiri tak ada keturunan dari Mbah Kuning."

Menurutnya, seharusnya yang pantas menerima gelar juru kunci Mbah Kuning itu adalah anak atau cucunya. "Berhubung keluarga tak membolehkan maka aku lempar ke orang lain," katanya. (enha/wak)

0 comments

Leave a Reply